Selasa, 09 Agustus 2016

Do'a Rasul untuk Ibunda Abu Hurairah

Tidak ada komentar:
Di balik dari kecemerlangan seorang anak, tentu tak bisa dilepaskan dari sosok seorang ibu. Kecerdasan seorang Abu Hurairah pun tak lepas dari sosok ibundanya, Umaimah binti Shubaih bin al-Harits. Sebab sejak kecil memang pemilik nama lengkap Abdurrahman bin Shakhr al-Azdi ini merupakan seorang yatim. Dan di bawah asuhan Umaimah, dia tumbuh menjadi pemuda dengan kecemerlangan otak luar biasa.

Tak kurang dari 5.374 hadis yang diriwayatkannya. Tercatat lebih dari 800 orang perawi dari kalangan sahabat dan tabi’in telah meriwayatkan hadis darinya. Beberapa di antara mereka adalah Ibnu Abbas, Ibnu Umar dan Anas bin Malik. Umaimah sangat mencintai Abu Hurairah, begitu juga sebaliknya. Namun, cintanya pada sang anak tak menggerakkan hatinya untuk memeluk Islam. Sesering apapun Abu Hurairah mengajaknya pada keagungan Islam, ibunya selalu menolak. Meski demikian, dia tetap memperlaukan ibunya dengan penuh kasih sayang. Suatu hari, kegundahan hati Abu Hurairah memuncak. Pasalnya, dia tidak mampu meluluhkan hati sang ibu untuk berbait kepda Rasulullah. Bahkan yang membuatnya gunda gulana, sang ibunda justru mengucapkan kalimat tak pantas perihal Rasulullah. Saking tak kuasanya menahan pilu, sembari berlinang air mata dia menemui Nabi Muhammad. Dia pun mengadukan kejadian yang baru saja dialaminya. Dengan dilandasi rasa sayang kepada sang ibunda dan tak ingin murka Allah menimpa sosok yang membesarkanya, dia pun memohon doa kepada Rasulullah. “Ya Rasul! Mohonkan kepada Allah agar memberikan hidayah kepada ibuku,” pintanya kepada Nabi Muhammad. Laksana seorang bapak yang sangat mengasihi anaknya, Rasulullah pun mengabulkan permintaannya. Mendengar itu, sesak dada yang memnuhi rongga jiwanya pun mulai sirna. Abu Hurairah merasa lebih tenang. Dia kembali ke rumahnya dengan penuh suka cita. Dia seakan tak sabar ingin melihat perubahan pada diri sang ibunda. Sampai di depan pintu rumahnya, Abu Hurairah tertegun. Sebab, dia mendapati pintu rumah terkunci rapat. Mendengar langkah kaki Abu Hurairah yang terhenti di depan pintu, ibunya berkata dari dalam. “Anakku! tetaplah engkau di luar,” kata Umaimah. Mendengar ucapan sang ibu, dai pun menurutonya. Namun, dari luar Abu Hurairah mendengar gemericik air. Tak lama kemudian, sang ibu pun membuka pintu. Syahdan, Sang ibunda keluar dengan memakai baju dan kerudung. “Wahai anakku!  Asyhadu Allaa Ilaaha Illallah wa Asyhadu anna Muhammadan Rasuulullah,” ucapnya tanpa disangka-sangka. Mendengar kata-kata yang meluncur dari bibir sang ibunda, sontak saja Abu Hurairah mengucapkan takbir. Air matanya tak terbendung. Dalam hari dia bersyukur doa Rasulullah begitu cepat terkabul. Lalu, dia pun berlari menemui Rasulullah SAW sembari menangis. Namun, kali ini bukan air mata kesediahan tapi air mata bahagia. Dengan wajah ceria, dia menceritakan perihal keislaman ibunya. Dia pun meminta Rasulullah mendoakan ibunya kembali agar disayangi oleh setiap orang beriman. Doa itu pun terkabul. Ummu Abu Hurairah RA begitu disayangi oleh orang-orang di sekitarnya. Bahkan dia dikenal sebagai wanita yang dermawan dan murah hati. • dari berbagai sumber

Rabu, 30 Maret 2016

Baiatur Ridwan

Tidak ada komentar:
Sayyidina Utsman bin Affan dan Baiatur Ridwan

Hudaibiyah adalah tempat bersejarah, terletak sekitar 24 kilometer barat daya kota Mekkah. Hudaibiyah sudah di luar tanah suci, karena jarak antara Masjidil haram dengan batas tanah suci sejauh 22 Kilometer.

Di sana ada sebuah masjid yang biasa digunakan kaum Muslimin untuk shalat berjamaah. Tidak jauh dari situ ada bekas bangunan masjid kuno, yang sekarang hanya tinggal puing-puing dari batu hitam dan campuran semacam semen. Di tempat itu, lebih dari tiga belas abad yang lalu terjadi peristiwa luar biasa, yang mendahului terjadinya fathu Makkah, dibebaskannya kota Mekkah dari kemusyrikan. Peristiwa itu terkenal dengan istilah Baiat ar Ridwan, janji setia di bawah pohon ridwan! Awalnya, Rasulullah SAW bersama sekitar seribu lima ratus orang berniat Umrah ke Masjidil Haram di Mekkah. Beliau membawa hewan kurban sebagai pemberitahuan kepada kaumnya bahwa kedatangannya ke Mekkah bukanlah untuk berperang. Begitu juga para sahabat diperintahkan untuk tidak membawa senjata, kecuali pedang yang tetap dalam sarungnya. Orang kafir­r Quraisy amat tidak suka dan berusaha mencegah kaum Muslimin agar tidak memasuki Mekkah. Mereka kemudian mengutus Khalid bin Walid bersama dua ratus orang yang berkuda dan bersenjata lengkap untuk merintangi perjalanan kaum Muslimin. Baginda akhirnya tahu ulah mereka, karena itu beliau memerintahkan kaum Muslimin agar menempuh perjalanan yang tidak biasa dilewati orang dan agar tidak berpapasan dengan pasukan Khalid bin Walid. Ketika Rasulullah SAW bersama kaum Muslimin sampai di Tsaniyatul Mirar, sebuah lembah di daerah Hudaibiyah, Qashwa, unta yang dikendarai Nabi mendadak berhenti. Pada akhirnya baginda Nabi bersama kaum Muslimin berhenti di sekitar tempat itu. Setelah mengetahui bahwa Nabi bersama kaum Muslimin berhenti di Hudaibiyah, kaum ka­fir Quraisy mengutus Badil Ibnu Waraqah al-Khuza’y untuk menanyakan maksud kedatangan Nabi Muhammad SAW bersama kaum Muslimin. Setelah mendapat penjelasan yang cukup Badil kembali kepada kaum ka­fir Quraisy, dan menyampaikan kepada mereka bahwa Nabi bersama kaum Muslimin hanya berniat umrah, bukan untuk berperang. Orang ka­fir Quraisy tidak mempercayai Badil, karena mereka menganggap ia condong membela Nabi seperti halnya kaum Khuzaah lainnya. Kemudian mereka mengutus Hulais Ibnu Al-Qamah, pemimpin orang Habsyi sekutu orang Quraisy. Rasulullah SAW yang sudah tahu kalau yang diutus adalah Hulais, maka beliau berkata kepada para sahabat; “Ia berasal dari kaum yang mengagungkan kurban, maka tampakkanlah hewan kurban kalian, supaya ia mengetahui tujuan kita”, maka para sahabatpun mentaati Nabi seraya mengumandangkan talbiyah. Sekembali kepada kaum ka­fir Quraisy Hulais berkata: “Maha suci Allah, mereka benar-benar berniat umrah, sehingga tidak layak kita menghalang-halangi mereka. Kalian memperbolehkan Lahm, Judzam, dan Himyar untuk berhaji, tetapi melarang cucu Abdul Muththalib menziarahi Ka’bah. Ini sungguh tidak adil” Orang kafi­r Quraisy tetap keras kepala, mereka berkata kepada Hulais: “Duduklah dulu dan tenanglah, rupanya Anda tidak paham tipu muslihat” Kembali orang kafi­r Quraisy mengirim utusan, kali ini adalah Urwah Ibnu Mas’ud ats-Tsaqa­, pemimpin orang Taif. Ketika sampai di tempat Rasulullah SAW, ia melihat sendiri betapa para sahabat amat tawadhu dan memulyakan Nabi Muhammad SAW. Karena itu ketika kembali kepada kaum ka­fir Quraisy, ia berkata: “Hai kaum Quraisy, aku belum pernah melihat seorang raja yang begitu dihormati kaumnya seperti halnya penghormatan para sahabat kepada Muhammad. Aku yakin mereka akan membelanya dan tidak menyerahkan dia kepada kalian apapun imbalannya” Orang ka­fir Quraisy langsung memotong pembicaraan itu, seraya mengatakan: “Sudah, sudah, jangan bicara itu lagi. Pokoknya kami sepakat menolak kedatangan mereka untuk tahun ini. Mereka boleh datang tapi harus tahun depan !” Baginda Nabi kemudian mengutus Usman bin Aan RA bersama beberapa orang untuk melakukan negosiasi dan menjelaskan kedatangan kaum Muslimin ke kota Mekkah. Usman kemudian berangkat ke Mekkah di bawah perlindungan Abban Ibn Said al-Umawy, dan menyampaikan amanat yang diembannya kepada kaum ka­r Quraisy. Pesan yang dibawa Usman dijawab orang-orang Quraisy; “Sesungguhnya Muhammad selamanya tidak boleh memasuki Ka’bah dengan kekerasan terhadap kami”. Mereka mengizinkan Usman thawaf di Ka’bah, namun ia menolak dengan mengatakan: “Aku tidak akan thawaf selagi Nabi dilarang melakukannya” Yang terjadi kemudian, mereka menahan Usman bin Afan sehingga tersiar kabar ia telah dibunuh. Rasulullah SAW segera mengumpulkan para sahabat, dan mengajak mereka untuk berbaiat kepadanya. Para sahabat tanpa ragu-ragu mengucapkan baiat untuk rela berkorban demi agama, di bawah sebuah pohon (syajarah) ar-Ridwan, peristiwa itu dikenal dalam tarikh dengan nama Baiatur Ridwan. Baiatur Ridwan menggetarkan kaum kafi­r Quraisy, itu sebabnya akhirnya mereka membebaskan Usman bin Afan bersama sepuluh sahabat lainnya. sekaligus peristiwa itu menjadi awal terjadinya fathu Makkah, dibebaskannya kota Mekkah dari kemusyrikan. (disadur dari kitab Nurul Yaqin ­ siirati Sayyidil Mursalin karya Syekh Muhammad al-Khudhari Bek)

Senin, 28 Maret 2016

Nusaibah binti Ka’ab Al-Anshariyah

Tidak ada komentar:
Wanita Yang Setara dengan Seribu laki-laki
Nusaibah binti Ka’ab Al-Anshariyah

Ada seorang wanita yang begitu dikagumi Rasullah SAW atas keberaniannya. Dialah Nusaibah binti Ka’ab Al-Anshariyah. Sosok wanita sholeh yang turut melindungi Nabi Muhamad saat meletusnya perang Uhud. “Tidaklah aku melihat ke kanan dan ke kiri pada pertempuran Uhud kecuali aku melihat Nusaibah binti Ka’ab berperang membelaku,” puji Rasulullah.

Wanita yang lebih dikenal dengan nama Ummu Imarah ini merupakan adalah salah satu dari 2 perempuan yang bergabung dengan 70 laki-laki Anshar yang berbai’at kepada Rasulullah di Aqabah. Ia adalah seorang sahabat perempuan yang mulia dan pemberani. Ummu Imarah hampir selalu ikut dalam setiap peperangan bersama suami – Zaid bin Ahsim – dan kedua anaknya – Hubaib dan Abdullah. Dalam berbagai riwayat disebutkan bahwa dalam tiap pertempuran Nusaibah berperang penuh keberanian dan tidak menghiraukan diri sendiri ketika membela Rasulullah. Bahkan ketika dirinya menderita luka-luka di sekujur tubuh sekalipun. Saat melindungai Nabi Muhammad pada perang Uhud, sedikitnya ada sekitar 12 luka di tubuhnya. Ketika itu datanglah Ibnu Qomi’ah yang hendak membunuh Rasulullah. Maka berdirilah Ummu Imarah diantara keduanya. Sontak saja Ibnu Qomi’ah memukul bagian belakang leher Ummu Imarah dengan keras hingga luka parah. Namun dengan gagah berani layaknya seorang lelaki pemberani, dia membalas dengan beberapa pukulan. Meskipun seorang perempuan, Ummu Imarah tidak gentar dan lemah. Dirianya tetap berada di medan perang melindungi utusan Allah yang sangat dicintainya. Sepeninggal Rasulullah – pada masa Khalifah Abu Bakar, jejak kepahlawanan Nusaibah juga terlacak di perang Yamamah. Saat itu dia pergi berperang melawan Musailamah al-Kadzab bersama putranya Abdullah. Ketika Abdullah putranya memegang tangan Nusaibah dan memapahnya menuju jenazah Al Kadzab, dia pun berkata, “Tidak ada satupun yang dapat menghalangiku hingga aku melihat manusia kotor ini telah dibunuh.” Beberapa saat setelah Perang Yamamah, Nusaibah akhirnya wafat menghadap Sang Pencipta, pada tahun ke-13 Hijriyah. Sungguh luar biasa kesetiaan yang diberikan oleh Nusaibah binti Ka’ab dalam jihad dijalan Allah. Pantaslah jika dia dijuluki Ummu Imarah (ibunya para pemimpin) dan Difaun Nabi (Perisai Nabi). Bahkan para ahli sejarah menyebut bahwa semangat dan keberanian Nusaibah setara dengan seribu laki-laki biasa. •dari berbagai sumber

Jumat, 25 Maret 2016

Khadijah Binti Khuwailid

Tidak ada komentar:
Mengenang Ibu Idaman Khadijah Binti Khuwailid

Khadijah RA, isteri Nabi yang setia merupakan wanita terbaik yang dipuji oleh Rasulullah. Beliau bersabda, “Wanita terbaik yang pernah ada ialah Maryam puteri Imran dan Khadijah binti Khuwailid”. (HR Bukhari dan Muslim)

Dalam hadis lain yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Hatim dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda, “Sebaik-baik wanita penghuni surga adalah Khadijah binti Khuwailid, Fatimah binti Muhammad, Maryam binti Imran dan Asiyah binti Muzahim, isteri Fir’aun”. Khadijaah RA berasal dari keturunan orang yang mulia. Nasabnya dari pihak ayah –Khuwailid- bertemu dengan nasab Nabi Muhammad SAW pada kakeknya keempat yaitu Qushai bin Kilab. Sedang dari pihak ibu nasabnya bertemu dengan nasab Nabi pda kakek ketiga, Abdul Manaf. Ayahnya, Khuwailid terkenal sebagai orang yang sukses dan kaya raya. Tetapi ia tetap rendah hati dan menghormati orang lain. Pada zamannya orang-orang Arab dikenal sebagai pengikut paganisme, penyembah berhala. Tetapi Khuwailid dan keluarganya tetap berpegang pada agama nabi Ibrahim AS Khadijah hidup di lingkungan keluarga terhormat dan memiliki religiusitas yang tinggi. Keluarga Khadijah ini terkenal karena memiliki akhlak yang mulia. Berbeda dengan pada umumnya orang-orang Quraisy lainnya yang menyembah berhala, suka bertengkar, fanatik terhadap kabilahnya masing-masing dan kerusakan moral lainnya. Nabi Muhammad SAW sangat menghormati Khadijah, karena jasanya yang sangat besar bagi perjuangan Islam. Dihadapan para sahabatnya Rasulullah sering menyebut sebagai wanita yang paling utama. Rasulullah tidak pernah menikah lagi semasa Khadijah masih hidup. Begitu mulianya akhlak Khadijah sehingga Allahpun memujinya. Suatu hari Malaikat Jibril mendatangi Nabi dan berkata kepadanya, “Wahai Muhammad sebentar lagi Khadijah datang dan membawakan makanan untukmu. Jika ia datang sampaikan salam dari Allah dan juga dari aku” kata Jibril. Sebagai isteri yang setia, Khadijah senantiasa mendampingi nabi dan menenteramkan hatinya. Ketika suaminya baru saja menerima wahyu yng pertama kali, beliau ketakutan. Khadijahlah yang menenangkan hatinya. Isterinya itu meyakinkan bahwa bahwa yang datang menemuinya di Gua Hira adalah malaikat utusan Allah untuk menyampaikan wahyu dan memilihnya sebagai Rasul Allah. Khadijah mengajak suaminya menemui saudara sepupunya Waraqah bin Naufal yang beragama Nasrani dan menguasai AlKitab. Dari penegasan sepupunya bahwa yang menjumpai di Gua Hira adalah malaikat Jibril sebagaimana ia datang kepada para nabi sebelumnya. Keterangan sepupunya ini makin memperkuat keyakinan beliau akan tugasnya sebagai utusan Allah. Kemantaban hati Nabi ini adalah berkat usaha isterinya Khadijah binti khuwailid. Khadijah RA adalah seorang ummul mu’minin yang mendapatkan pujian dari Allah SWT. Bahwa Allah mengucapkan salam kepadanya dan menyediakan rumah dari permata di surga. Keistimewaan lain dari Khadijah dibandingkan isteri-isteri nabi lainnya, bahwa nabi dikaruniai anak adalah bersama dengan isterinya Khadijah RA. Putra putri Nabi bersama Khadijah itu adalah Qosim, Abdullah, Zainab, Ruqoiyah, Ummi Kultsum dan Fatimah. Dari putri bungsunya, Fatimah Az-Zahrah lahir dua cucunya Hasan dan Husein. Kedua cucunya inilah yang kemudiaan melahirkan keturunan nabi dari generasi ke generasi. Khadijah adalah isteri nabi yang selalu mendampingi beliau setiap saat dalam kondissi suka dan duka. Ketika orang-orang ka­firr Quraisy mengintimidasi, menghina dan menyakiti Rasulullah, Khadijah sebagai isteti yang mendampinginya yang membela dan menghibur hati Nabi SAW. Hal ini diakui oleh Rasulullah dan mengatakan, “Setiap kali aku menerima pengingkaran dan pendustaan dari kaumku yang menyakitkan hati, Allah senantiasa meringankan bebanku melalui istriku Khadijah”. Rasulullah merasakan betapa besar jasa isterinya Khadijah dalam perjuangan menjalankan tugas-tugas kenabian. Nabi merasa berbahagia bersamanya. Sehingga ketika Khadijah wafat dipanggil oleh Allah SWT Nabi Muhammad SAW sangat sedih. Apalagi pamannya Abu Thalib tidak lama sebelumnya juga wafat memenuhi panggilan Allah. Ahli tarih –sejarah menyebut tahun itu sebagai amul huzzni – tahun kesedihan. Walaupun isterinya yang pertama itu sudah tiada, Nabi Muhammad SAW masih sering memujinya dihadapan isterinya yang lain. Sebagaimana dikatakan oleh Aisyah RA, “Jika Rasulullah teringat Khadijah, beliau selalu memujinya dengan pujian yng sangat baik”. Maka patutlah jika Khadijah binti Khuwailid, isteri nabi yang pertama itu mendapatkan julukan ummul mu’minin, ibu para orang beriman, ibu idaman dan ibu teladan bagi semua insan •

Rabu, 23 Maret 2016

Hafalan Surat yang Hilang

Tidak ada komentar:
Hafalan Surat yang Hilang

Mentari masih dipeluk kabut. Hari tampak terlalu dini. Sementara Irfan sudah tenggelam dalam nikmatnya lantunan ayat-ayat suci. Terkadang bacaannya terhenti sedang otaknya berputar keras mencari serpihan-serpihan ayat hafalannya di sudut-sudut memori. Barangkali ia temukan di balik ingatannya yang semakin hari semakin tajam saja. Diliriknya Al-Quran yang berada tepat di hadapannya ketika ayat itu tak berhasil ia jumpai. “Loh, Irfan. Sudah jam setengah tujuh nak!”.
Tahu-tahu sang ibu sudah berada di belakangnya. Memegang pundak putra tercintanya yang belum genap berusia empat tahun. Dituntunnya Irfan menuju depan rumah tempat sang bapak menunggu kemudian diangkatnya ke boncengan sepeda hingga ia duduk dengan sempurna. “Jangan nakal yo le! Hafalkan surat al-Baqarahnya dengan baik. Jangan cuma main aja kerjaannya.” tutur sang ibu sembari menyodorkan tangannya untuk diciumi Irfan. Roda pun mulai berputar. Sebentar saja sepeda yang membawa bapak dan anak itu telah hilang di telan tikungan. Tepat di depan sebuah yayasan bertuliskan “Darul Qur’an”, sepeda terhenti seketika. Irfan berusaha turun sekenanya. Beruntung ia tidak terjatuh atau celaka.Setelah disalaminya tangan sanag bapak, ia berlari kecil menuju gerbang kemudian masuk ke dalam sebuah ruangan yang sudah disesaki teman-temannya yang sedang menghafal al-Qur’an. Segera di bukanya kitab suci miliknya tanpa aba-aba. Tak lama setelah itu, Pak Ustadz datang seraya mengucapkan salam.Siswa siswi yang ada di kelas itupun menjawab dengan kompak. “Siapa yang mau setor hafalan dulu?” tanya ustadz dengan semangat. Irfan mengacungkan tangan dengan sigap. “Ya bagus Irfan. Ayo sini,” pinta Sang Ustadz memangil. Bima, teman sebangku Irfan terlihat gusar. Rasa iri menguasai hatinya. Lembar demi lembar al-Qur’an dibukanya dengan kasar hingga terlihat kusut. Mulutnya komat-kamit melafalkan hafalannya. Tapi ia terlihat bingung. Hafalannya mendadak kabur.Tak ada sepotong ayatpun diingatnya. Sementara hatinya semakin panas saja melihat Irfan berhasil menghafal dengan lancar tanpa hambatan. Wajahnya tampak merah menyala tak ubahnya bara. Ia berusaha keras sekuat tenaga mencari ayat-ayatnya.Sayang, hilangnya hafalan itu semakin menggila. Ia malah bertambah
upa. Bahkan meski ia pejamkan matanya rapat-rapatdan mengernyitkan dahinya berlapis-lapis. Irfan berjalan sambil tersenyum. Rasa lega memenuhi jiwanya. Melihat itu semua hati Bima semakin bergemuruh. Emosinya kian meletup-letup. Begitu hingga semua temannya selesai menyetor hafalan masingmasing. Kini giliran Bima yang dipanggil Pak Ustadz. Tubuhnya gemetar hebat. Sekitar sepuluh menit berlalu. Bima belum juga menyelesaikan satu ayat saja. “Bagaimana Bima? Tadi malam tidak menghafal ya?” tanya Pak Ustadz. “Menghafal kok Ustadz. Bahkan tidak tidur sampai jam sebelas malam.” “Oh ya? Kok sekarang bisa gak hafal?” “Mmmm anu Pak Ustadz, anu...” “Ya sudah kamu tahukan hukuman jika tidak menghafalkan?” “Ya pak ustadz.” Segera Bima berdiri di depan kelas dengan satu kaki. Kedua tangannya memegang telinganya dengan sisi berlawanan. Tangan kanan untuk telinga kiri dan sebaliknya. Bima benar-benar malu dibuatnya. Ia benar-benar kecewa pada dirinya sendiri. Dirasanya getol sekali tadi malam ia menghafal itu surat. Kenapa tiba-tiba hilang tak berbekas seperti ini. Kepalanya menunduk menyangga gengsinya. Pak Ustadz hanya menggelenggeleng kepala melihat Bima. Embun belum juga mengering ketika Irfan mengecup tangan bapaknya pagi ini. Seulas senyum sempat ia hadiahkan pada sang bapak yang tak pernah lelah mengantarnya menuju sekolah setiap pagi. Demi menjadikan sang anak sebagai Ha­dz Al-Qur’an. Sungguh cita-cita yang amat mulia. Sepagi ini, pemandangan yang jarang terjadi Irfan temui. Bima tampak serius sekali melototi kitab suci. Irfan merasa heran bukan kepalang.segera saja. Ia duduk di sampingnya sambil perlahan membaca ayatayat-Nya. Alhamdulillah, satu lembar dapat

ia selesaikan dengan lancar. Ia merasa sangat siap andaikata Sang Ustadz menawarinya setor di giliran perdana.Dan benar saja,ketika Sang Ustadz datang,beliau meminta Irfan yang setor terlebih dahulu. Dengan senang hati Irfan maju ke depan kelas dan membaca dengan suara lantang dan tenang. Entah apa yang ada di ­kiran Bima. Ia seperti merasa dengki mendengar suara Irfan yang merdu. Kejadian serupapun kembali menimpa Bima. Ayat-ayat hafalannya hilang lagi. Ia bingung bukan main. Matanya semakin memerah memendam amarah. Tampaklah seluruh luapan bencinya pada Irfan. “Bima... Sini biar aku yang bantu mengoreksi hafalanmu,” pinta Irfan. “Ah... gak usah sok baik kamu Ir! Kamu sombong ya karena selalu setor duluan?” tuduhnya. “Gak kok Bim. Aku cuma pengen bantu,” jawabnya dengan lemah. “Ada apa itu kok rebut-ribut?” tanya Pak Guru seketika. Saking kerasnya suara Bima hingga membuat Ustadz mendengar apa yang Bima katakana tadi. “Ayo Bima maju! Hafalkan ayat-ayatnya dengan baik. Jangan seperti kemarin!” Bima berjalan dengan loyo. Memang hafalannya telah hilang semenjak irfan setor tadi. Ia tak tahu harus bagaimana lagi. Langsung saja Bima mengatakan hal yang sejujur-jujurnya. Pak ustadz kembali menghukum Bima dan menyuruhnya menghadap sepulang sekolah nanti.Ia menuruti kata Ustadznya dan menceritakan hal ganjil yang menimpanya dua hari terakhir ini. Barulah ia tahu bahwa itu ulahnya sendiri yang merasa dengki pada Irfan. Itulah hal yang menyebabkan hafalannya hilang. Karena sejatinya AlQur’an itu ayat suci dan harus di baca dengan hati yang suci pula. 

Minggu, 20 Maret 2016

Ketegaran Ummu Syuhada’

Tidak ada komentar:
Ketegaran Ummu Syuhada’

Kehilangan empat orang anak sekaligus tak pernah membuatnya sedih. Namun justru membuat wanita tua ini bahagia. Dialah Al-Khansa bin Amru. Seorang penyari wanita yang terkenal cantik dan pandai di kalangan bangsa Arab ketika itu. Setelah memeluk islam seluruh jiwa raganya diserahkan kepada Islam termasuk anak-anaknya.

Da mempunyai empat orang putera. Semuanya dididik untuk senantia menjadi martir islam yang gaagah berani. Khansa senantiasa mengembelng anaknya sejak kecil agar jangan takut menghadapi peperangan dan ujian dalam membela Islam. Pada tahun 14 Hijrah, Khalifah Umar Ibnul Khattab mempersiapkan satu pasukan tempur untuk memerangi bangsa Farsi. Pasukan Islam dari berbagai kabilah telah dikerahkan untuk menuju ke medan perang hingga mencapai 41.000 orang. Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Khansa pun mengutus keempat-empat puteranya agar ikut mengangkat senjata dalam perang suci itu. Tak hanya itu, Khansa sendiri juga ikut ke medan perang dalam kumpulan pasukan wanita yang bertugas merawat danmenggelorakn semangat juang tentara Islam melalui syair-syairnya. Sebelum jihad di medan perang, kepada keempat putranya, Khansa menitipkan sebuah pesan. “Wahai anak-anakku! Kamu telah memilih Islam dengan rela hati. Kemudian kamu berhijrah dengan sukarela pula. Demi Allah, yang tiada tuhan selain Dia, sesungguhnya kamu sekalian adalah puteraputera dari seorang lelaki dan seorang wanita. Kamu telah tahu pahala yang disediakan oleh Allah kepada kaum muslimin dalam memerangi kaum ka­r itu. Ketahuilah bahwasaya kampung yang kekal itu lebih baik daripada kampung yang binasa.” Kemudian Khansa membacakan satu ayat dari surah Ali Imran yang bermaksud. Lalu dia berkata lagi, “Jika kalian bangun esok pagi, insya Allah dalam keadaan selamat. Maka keluarlah untuk berperang dengan musuh kamu. Gunakanlah semua pengalamanmu dan mohonlah pertolongan dari Allah. Jika kalian melihat api pertempuran semakin hebat dan kamu dikelilingi oleh api peperangan yang sedang bergejolak, masuklah ke dalamnya. Dan rengkuhlah puncaknya ketika meletus pertempurannya. Semoga kalian sukse mendapat balasan di kampung yang abadi, dan tempat tinggal yang kekal.” Tak lama kemudan, perang besarbesaran pun terjadi. Tak kurang dari 41.000 orang tentera Islam melawan tentera Farsi yang berjumlah 200.000 orang. Pasukan Islam mendapat tentangan hebat, namun mereka tetap yakin akan pertolongan Allah. para putera-putera Khansa juga turut maju untuk merebut peluang memasuki syurga. Berkat dorongan dan nasihat dari sang ibunda, mereka tidak sedikit pun berasa takut. Sambil mengibas-ngibaskan pedang, salah seorang dari mereka bersenandung, ”Hai saudara-saudaraku! Ibu tua kita yang banyak pengalaman itu telah memanggil kita semalam dan membekalkan nasihat. Semua mutiara yang keluar dari mulutnya bernas dan berfaidah. Insyaallah akan kita buktikan sebentar lagi.” Kemudian dia pun maju memukul setiap musuh yang datang. Seterusnya disusul pula oleh anak kedua maju dan menentang setiap musuh yang menyerang. Dengan semangat yang berapi-api ia bersyair, “Demi Allah! Kami tidak akan melanggar nasihat dari ibu tua kami. Nasihatnya wajib ditaati dengan ikhlas dan rela hati. Segeralah bertempur, Segeralah bertarung dan menggempur musuh-musuh bersama-sama. Sehingga kau lihat keluarga Kaisar musnah.” Anak Khansa yang ketiga segera melompat dengan beraninya dan bersyair, “Sungguh ibu tua kami kuat semangatnya. Dia tetap tegas tidak akan pernah goncang. Beliau telah memberihakn tihtah agar bertindak cakap dan berakal cemerlang. Mari! Segera memasuki medan tempur dan segeralah untuk mempertahankan diri. Dapatkan kemenangan yang bakal membawa kegembiraan di dalam hati. Atau tempuhlah kematian yang bakal mewarisi kehidupan yang abadi.” Tak ketinggaln, anak keempat seraya menghunus pedang dan melompat menyusul ketiga saudaranya. Dia pun bersyair, “Bukanlah aku putera Khansa’. Bukanlah aku anak laki-laki. Dan bukanlah sebab ‘Amru yang pujiannya sudah lama terkenal. Kalau aku tidak membuat tentara asing yang berkelompok-kelompok itu terjungkal ke jurang bahaya, dan musnah oleh senjataku.” Maka keempat-empat putera Khansa berjuang dengan tekad bulat untuk mendapatkan syurga sambil diiringi oleh munajat bundanya yang berada di garis belakang. Dalam pertempuran ini akhirnya umat islam mampu memporakporandakan tentara Farsi dengan jumlah syahid sebanyak lebih kurang 7,000 orang. Dari jumlah syuhada itu terbujur empat orang anak Khansa’. Kaum muslimin pun menemui Khansa memberitahukan kesyahidan putraputranya. Khansa pun menerima berita itu dengan tenang, gembira dan hati tidak bergoncang. al-Khansa terus memuji Allah dengan ucapan, “Segala puji bagi Allah, yang telah memuliakanku dengan mensyahidkan mereka. Dan aku mengaharapkan dari Tuhanku, agar Dia mengumpulkan aku dengan mereka di tempat tinggal yang kekal dengan rahmat-Nya!” Al-Khansa kembali semula ke Madinah bersama para perajurit yang masih hidup dengan meninggalkan mayat-mayat puteranya di medan pertempuran Kadisia. Dari peristiwa peperangan itu pula wanita penyair ini mendapat gelaran kehormatan “Ummu syuhada” yang ertinya ibu kepada orang-orang yang mati syahid. •

Sabtu, 12 Maret 2016

Kisah Luqman dan Si Kepala Sapi

Tidak ada komentar:
Kisah Luqman dan Si Kepala Sapi

Mendidik anak merupakan kewajiban bagi setiap orangtua. Tidak hanya pendidikan yang bersifat duniawi, namun juga pendidikan yang bersifat ukhrawi. Keduanya pun harus ditanamkan sejak dini. Sebab akan sangat berbeda hasil yang didapat ketika kedua pendidikan tersebut tidak dijalankan secara seimbang sejak dini.
Oleh : M Rizal B Firmansyah*)
Dalam Al-Quran telah tertulis kisah Luqman al Hakim, sosok seorang ayah yang selalu memberikan nasihat keagamaan kepada anaknya. Nasihat-nasihat tersebut menjadikan anak-anak Luqman bertaqwa kepada Allah Swt. dan berperilaku baik. Di antara nasihat Luqman pada anaknya yaitu agar ia tidak menyekutukan Allah, “..... Hai anakku, janganlah kamu menyekutukan Allah! Sesungguhnya menyekutukan Allah adalah kedzaliman yang besar.” (QS. Luqman: 13). “Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah mereka dari perbuatan yang mungkar, dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu....” (QS. Luqman: 17). Luqman melarang anaknya untuk bersikap sombong. Ia mengajarkan untuk sederhana dalam berjalan, tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat, “Dan, sederhanalah kamu dalam berjalan...” (QS. Luqman: 19). Luqman juga menyuruh anaknya untuk berbicara dengan lembut, “Dan lunakkanlah suaramu...” (QS. Luqman: 19). Maka dengan nasihat-nasihat tersebut, anak-anak Luqman menjadi anak yang saleh dan berperilaku baik. Satu masa dengan Luqman al Hakim, ada seorang ayah yang selalu sibuk mencari harta sehingga lupa untuk mendidik anaknya ilmu keagamaan. Sejak kecil, ia dididik untuk menggembalakan sapi di ladang rumput. Setiap hari ia pergi ke ladang rumput bersama sapi-sapinya dengan berbekal sebuah cambuk. Ketika sapi itu tidak menurut, maka cambuk itu akan dipukulkan pada kulit si sapi. Pada suatu hari, sang anak melakukan hal yang tidak disukai ayahnya. Maka sang ayah menasehatinya agar ia meniru perilaku anak Luqman yang sangat santun dan saleh itu. Namun tanpa diduga anak itu memukul kepala ayahnya dengan gagang cambuk. Rupanya ia tersinggung dengan nasihat ayahnya. Ia tidak suka didrinya dibandingbandingkan dengan orang lain. Maka dengan perasaan hancur, sang ayah pergi menemui Luqman untuk mengadukan kejadian yang baru menimpanya dan meminta saran. Luqman bertanya, “Sejak kecil, kamu apakan anakmu itu?” Sang ayah menjawab dengan bangga, “Anakku aku didik untuk mandiri sejak kecil. Dia kubelikan beberapa ekor sapi untuk digembalakan setiap hari. Kuberi dia cambuk agar dia bisa mengendalikan sapisapinya.” Jawaban tersebut menunjukkan bahwa sang ayah hanya menanamkan kepada anaknya pikiran untuk terus bekerja dan bekerja. Ia lupa bahwa ada hal yang lebih penting, yaitu pendidikan agama. Mendengar jawaban tersebut, Luqman tersenyum sambil berkata, “Mungkin kepalamu dilihatnya sebagai kepala sapi, hingga dipukul dengan gagang cambuk.”

*) Mahasiswa Prodi PGMI Institut Agama ISlam Negeri (IAIN) Jember
 
back to top