Mengenang Ibu Idaman Khadijah Binti Khuwailid
Khadijah RA, isteri Nabi yang setia merupakan wanita terbaik
yang dipuji oleh Rasulullah. Beliau bersabda, “Wanita terbaik yang pernah ada
ialah Maryam puteri Imran dan Khadijah binti Khuwailid”. (HR Bukhari dan Muslim)
Dalam hadis lain yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Hatim
dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda, “Sebaik-baik wanita penghuni surga
adalah Khadijah binti Khuwailid, Fatimah binti Muhammad, Maryam binti Imran dan
Asiyah binti Muzahim, isteri Fir’aun”. Khadijaah RA berasal dari keturunan
orang yang mulia. Nasabnya dari pihak ayah –Khuwailid- bertemu dengan nasab
Nabi Muhammad SAW pada kakeknya keempat yaitu Qushai bin Kilab. Sedang dari
pihak ibu nasabnya bertemu dengan nasab Nabi pda kakek ketiga, Abdul Manaf.
Ayahnya, Khuwailid terkenal sebagai orang yang sukses dan kaya raya. Tetapi ia
tetap rendah hati dan menghormati orang lain. Pada zamannya orang-orang Arab
dikenal sebagai pengikut paganisme, penyembah berhala. Tetapi Khuwailid dan keluarganya
tetap berpegang pada agama nabi Ibrahim AS Khadijah hidup di lingkungan
keluarga terhormat dan memiliki religiusitas yang tinggi. Keluarga Khadijah ini
terkenal karena memiliki akhlak yang mulia. Berbeda dengan pada umumnya
orang-orang Quraisy lainnya yang menyembah berhala, suka bertengkar, fanatik
terhadap kabilahnya masing-masing dan kerusakan moral lainnya. Nabi Muhammad
SAW sangat menghormati Khadijah, karena jasanya yang sangat besar bagi
perjuangan Islam. Dihadapan para sahabatnya Rasulullah sering menyebut sebagai
wanita yang paling utama. Rasulullah tidak pernah menikah lagi semasa Khadijah
masih hidup. Begitu mulianya akhlak Khadijah sehingga Allahpun memujinya. Suatu
hari Malaikat Jibril mendatangi Nabi dan berkata kepadanya, “Wahai Muhammad
sebentar lagi Khadijah datang dan membawakan makanan untukmu. Jika ia datang
sampaikan salam dari Allah dan juga dari aku” kata Jibril. Sebagai isteri yang
setia, Khadijah senantiasa mendampingi nabi dan menenteramkan hatinya. Ketika
suaminya baru saja menerima wahyu yng pertama kali, beliau ketakutan.
Khadijahlah yang menenangkan hatinya. Isterinya itu meyakinkan bahwa bahwa yang
datang menemuinya di Gua Hira adalah malaikat utusan Allah untuk menyampaikan
wahyu dan memilihnya sebagai Rasul Allah. Khadijah mengajak suaminya menemui
saudara sepupunya Waraqah bin Naufal yang beragama Nasrani dan menguasai
AlKitab. Dari penegasan sepupunya bahwa yang menjumpai di Gua Hira adalah
malaikat Jibril sebagaimana ia datang kepada para nabi sebelumnya. Keterangan
sepupunya ini makin memperkuat keyakinan beliau akan tugasnya sebagai utusan
Allah. Kemantaban hati Nabi ini adalah berkat usaha isterinya Khadijah binti
khuwailid. Khadijah RA adalah seorang ummul mu’minin yang mendapatkan pujian
dari Allah SWT. Bahwa Allah mengucapkan salam kepadanya dan menyediakan rumah
dari permata di surga. Keistimewaan lain dari Khadijah dibandingkan
isteri-isteri nabi lainnya, bahwa nabi dikaruniai anak adalah bersama dengan
isterinya Khadijah RA. Putra putri Nabi bersama Khadijah itu adalah Qosim,
Abdullah, Zainab, Ruqoiyah, Ummi Kultsum dan Fatimah. Dari putri bungsunya,
Fatimah Az-Zahrah lahir dua cucunya Hasan dan Husein. Kedua cucunya inilah yang
kemudiaan melahirkan keturunan nabi dari generasi ke generasi. Khadijah adalah
isteri nabi yang selalu mendampingi beliau setiap saat dalam kondissi suka dan
duka. Ketika orang-orang kafirr Quraisy mengintimidasi, menghina dan menyakiti
Rasulullah, Khadijah sebagai isteti yang mendampinginya yang membela dan
menghibur hati Nabi SAW. Hal ini diakui oleh Rasulullah dan mengatakan, “Setiap
kali aku menerima pengingkaran dan pendustaan dari kaumku yang menyakitkan
hati, Allah senantiasa meringankan bebanku melalui istriku Khadijah”.
Rasulullah merasakan betapa besar jasa isterinya Khadijah dalam perjuangan
menjalankan tugas-tugas kenabian. Nabi merasa berbahagia bersamanya. Sehingga
ketika Khadijah wafat dipanggil oleh Allah SWT Nabi Muhammad SAW sangat sedih.
Apalagi pamannya Abu Thalib tidak lama sebelumnya juga wafat memenuhi panggilan
Allah. Ahli tarih –sejarah menyebut tahun itu sebagai amul huzzni – tahun
kesedihan. Walaupun isterinya yang pertama itu sudah tiada, Nabi Muhammad SAW
masih sering memujinya dihadapan isterinya yang lain. Sebagaimana dikatakan
oleh Aisyah RA, “Jika Rasulullah teringat Khadijah, beliau selalu memujinya
dengan pujian yng sangat baik”. Maka patutlah jika Khadijah binti Khuwailid,
isteri nabi yang pertama itu mendapatkan julukan ummul mu’minin, ibu para orang
beriman, ibu idaman dan ibu teladan bagi semua insan •
Tidak ada komentar:
Posting Komentar