Jumat, 25 Maret 2016

Khadijah Binti Khuwailid

Tidak ada komentar:
Mengenang Ibu Idaman Khadijah Binti Khuwailid

Khadijah RA, isteri Nabi yang setia merupakan wanita terbaik yang dipuji oleh Rasulullah. Beliau bersabda, “Wanita terbaik yang pernah ada ialah Maryam puteri Imran dan Khadijah binti Khuwailid”. (HR Bukhari dan Muslim)

Dalam hadis lain yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Hatim dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda, “Sebaik-baik wanita penghuni surga adalah Khadijah binti Khuwailid, Fatimah binti Muhammad, Maryam binti Imran dan Asiyah binti Muzahim, isteri Fir’aun”. Khadijaah RA berasal dari keturunan orang yang mulia. Nasabnya dari pihak ayah –Khuwailid- bertemu dengan nasab Nabi Muhammad SAW pada kakeknya keempat yaitu Qushai bin Kilab. Sedang dari pihak ibu nasabnya bertemu dengan nasab Nabi pda kakek ketiga, Abdul Manaf. Ayahnya, Khuwailid terkenal sebagai orang yang sukses dan kaya raya. Tetapi ia tetap rendah hati dan menghormati orang lain. Pada zamannya orang-orang Arab dikenal sebagai pengikut paganisme, penyembah berhala. Tetapi Khuwailid dan keluarganya tetap berpegang pada agama nabi Ibrahim AS Khadijah hidup di lingkungan keluarga terhormat dan memiliki religiusitas yang tinggi. Keluarga Khadijah ini terkenal karena memiliki akhlak yang mulia. Berbeda dengan pada umumnya orang-orang Quraisy lainnya yang menyembah berhala, suka bertengkar, fanatik terhadap kabilahnya masing-masing dan kerusakan moral lainnya. Nabi Muhammad SAW sangat menghormati Khadijah, karena jasanya yang sangat besar bagi perjuangan Islam. Dihadapan para sahabatnya Rasulullah sering menyebut sebagai wanita yang paling utama. Rasulullah tidak pernah menikah lagi semasa Khadijah masih hidup. Begitu mulianya akhlak Khadijah sehingga Allahpun memujinya. Suatu hari Malaikat Jibril mendatangi Nabi dan berkata kepadanya, “Wahai Muhammad sebentar lagi Khadijah datang dan membawakan makanan untukmu. Jika ia datang sampaikan salam dari Allah dan juga dari aku” kata Jibril. Sebagai isteri yang setia, Khadijah senantiasa mendampingi nabi dan menenteramkan hatinya. Ketika suaminya baru saja menerima wahyu yng pertama kali, beliau ketakutan. Khadijahlah yang menenangkan hatinya. Isterinya itu meyakinkan bahwa bahwa yang datang menemuinya di Gua Hira adalah malaikat utusan Allah untuk menyampaikan wahyu dan memilihnya sebagai Rasul Allah. Khadijah mengajak suaminya menemui saudara sepupunya Waraqah bin Naufal yang beragama Nasrani dan menguasai AlKitab. Dari penegasan sepupunya bahwa yang menjumpai di Gua Hira adalah malaikat Jibril sebagaimana ia datang kepada para nabi sebelumnya. Keterangan sepupunya ini makin memperkuat keyakinan beliau akan tugasnya sebagai utusan Allah. Kemantaban hati Nabi ini adalah berkat usaha isterinya Khadijah binti khuwailid. Khadijah RA adalah seorang ummul mu’minin yang mendapatkan pujian dari Allah SWT. Bahwa Allah mengucapkan salam kepadanya dan menyediakan rumah dari permata di surga. Keistimewaan lain dari Khadijah dibandingkan isteri-isteri nabi lainnya, bahwa nabi dikaruniai anak adalah bersama dengan isterinya Khadijah RA. Putra putri Nabi bersama Khadijah itu adalah Qosim, Abdullah, Zainab, Ruqoiyah, Ummi Kultsum dan Fatimah. Dari putri bungsunya, Fatimah Az-Zahrah lahir dua cucunya Hasan dan Husein. Kedua cucunya inilah yang kemudiaan melahirkan keturunan nabi dari generasi ke generasi. Khadijah adalah isteri nabi yang selalu mendampingi beliau setiap saat dalam kondissi suka dan duka. Ketika orang-orang ka­firr Quraisy mengintimidasi, menghina dan menyakiti Rasulullah, Khadijah sebagai isteti yang mendampinginya yang membela dan menghibur hati Nabi SAW. Hal ini diakui oleh Rasulullah dan mengatakan, “Setiap kali aku menerima pengingkaran dan pendustaan dari kaumku yang menyakitkan hati, Allah senantiasa meringankan bebanku melalui istriku Khadijah”. Rasulullah merasakan betapa besar jasa isterinya Khadijah dalam perjuangan menjalankan tugas-tugas kenabian. Nabi merasa berbahagia bersamanya. Sehingga ketika Khadijah wafat dipanggil oleh Allah SWT Nabi Muhammad SAW sangat sedih. Apalagi pamannya Abu Thalib tidak lama sebelumnya juga wafat memenuhi panggilan Allah. Ahli tarih –sejarah menyebut tahun itu sebagai amul huzzni – tahun kesedihan. Walaupun isterinya yang pertama itu sudah tiada, Nabi Muhammad SAW masih sering memujinya dihadapan isterinya yang lain. Sebagaimana dikatakan oleh Aisyah RA, “Jika Rasulullah teringat Khadijah, beliau selalu memujinya dengan pujian yng sangat baik”. Maka patutlah jika Khadijah binti Khuwailid, isteri nabi yang pertama itu mendapatkan julukan ummul mu’minin, ibu para orang beriman, ibu idaman dan ibu teladan bagi semua insan •

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
back to top