Kisah Luqman dan Si Kepala Sapi
Mendidik anak merupakan kewajiban bagi setiap orangtua. Tidak
hanya pendidikan yang bersifat duniawi, namun juga pendidikan yang bersifat
ukhrawi. Keduanya pun harus ditanamkan sejak dini. Sebab akan sangat berbeda
hasil yang didapat ketika kedua pendidikan tersebut tidak dijalankan secara
seimbang sejak dini.
Oleh : M Rizal B Firmansyah*)
Dalam Al-Quran telah tertulis kisah Luqman al Hakim, sosok
seorang ayah yang selalu memberikan nasihat keagamaan kepada anaknya.
Nasihat-nasihat tersebut menjadikan anak-anak Luqman bertaqwa kepada Allah Swt.
dan berperilaku baik. Di antara nasihat Luqman pada anaknya yaitu agar ia tidak
menyekutukan Allah, “..... Hai anakku, janganlah kamu menyekutukan Allah!
Sesungguhnya menyekutukan Allah adalah kedzaliman yang besar.” (QS. Luqman:
13). “Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang
baik dan cegahlah mereka dari perbuatan yang mungkar, dan bersabarlah terhadap
apa yang menimpa kamu....” (QS. Luqman: 17). Luqman melarang anaknya untuk
bersikap sombong. Ia mengajarkan untuk sederhana dalam berjalan, tidak terlalu
cepat dan tidak terlalu lambat, “Dan, sederhanalah kamu dalam berjalan...” (QS.
Luqman: 19). Luqman juga menyuruh anaknya untuk berbicara dengan lembut, “Dan
lunakkanlah suaramu...” (QS. Luqman: 19). Maka dengan nasihat-nasihat tersebut,
anak-anak Luqman menjadi anak yang saleh dan berperilaku baik. Satu masa dengan
Luqman al Hakim, ada seorang ayah yang selalu sibuk mencari harta sehingga lupa
untuk mendidik anaknya ilmu keagamaan. Sejak kecil, ia dididik untuk
menggembalakan sapi di ladang rumput. Setiap hari ia pergi ke ladang rumput
bersama sapi-sapinya dengan berbekal sebuah cambuk. Ketika sapi itu tidak
menurut, maka cambuk itu akan dipukulkan pada kulit si sapi. Pada suatu hari, sang
anak melakukan hal yang tidak disukai ayahnya. Maka sang ayah menasehatinya
agar ia meniru perilaku anak Luqman yang sangat santun dan saleh itu. Namun
tanpa diduga anak itu memukul kepala ayahnya dengan gagang cambuk. Rupanya ia
tersinggung dengan nasihat ayahnya. Ia tidak suka didrinya dibandingbandingkan
dengan orang lain. Maka dengan perasaan hancur, sang ayah pergi menemui Luqman
untuk mengadukan kejadian yang baru menimpanya dan meminta saran. Luqman
bertanya, “Sejak kecil, kamu apakan anakmu itu?” Sang ayah menjawab dengan
bangga, “Anakku aku didik untuk mandiri sejak kecil. Dia kubelikan beberapa
ekor sapi untuk digembalakan setiap hari. Kuberi dia cambuk agar dia bisa
mengendalikan sapisapinya.” Jawaban tersebut menunjukkan bahwa sang ayah hanya
menanamkan kepada anaknya pikiran untuk terus bekerja dan bekerja. Ia lupa
bahwa ada hal yang lebih penting, yaitu pendidikan agama. Mendengar jawaban
tersebut, Luqman tersenyum sambil berkata, “Mungkin kepalamu dilihatnya sebagai
kepala sapi, hingga dipukul dengan gagang cambuk.”
*) Mahasiswa Prodi PGMI Institut Agama ISlam Negeri (IAIN)
Jember
Tidak ada komentar:
Posting Komentar