Sabtu, 12 Maret 2016

Kisah Luqman dan Si Kepala Sapi

Tidak ada komentar:
Kisah Luqman dan Si Kepala Sapi

Mendidik anak merupakan kewajiban bagi setiap orangtua. Tidak hanya pendidikan yang bersifat duniawi, namun juga pendidikan yang bersifat ukhrawi. Keduanya pun harus ditanamkan sejak dini. Sebab akan sangat berbeda hasil yang didapat ketika kedua pendidikan tersebut tidak dijalankan secara seimbang sejak dini.
Oleh : M Rizal B Firmansyah*)
Dalam Al-Quran telah tertulis kisah Luqman al Hakim, sosok seorang ayah yang selalu memberikan nasihat keagamaan kepada anaknya. Nasihat-nasihat tersebut menjadikan anak-anak Luqman bertaqwa kepada Allah Swt. dan berperilaku baik. Di antara nasihat Luqman pada anaknya yaitu agar ia tidak menyekutukan Allah, “..... Hai anakku, janganlah kamu menyekutukan Allah! Sesungguhnya menyekutukan Allah adalah kedzaliman yang besar.” (QS. Luqman: 13). “Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah mereka dari perbuatan yang mungkar, dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu....” (QS. Luqman: 17). Luqman melarang anaknya untuk bersikap sombong. Ia mengajarkan untuk sederhana dalam berjalan, tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat, “Dan, sederhanalah kamu dalam berjalan...” (QS. Luqman: 19). Luqman juga menyuruh anaknya untuk berbicara dengan lembut, “Dan lunakkanlah suaramu...” (QS. Luqman: 19). Maka dengan nasihat-nasihat tersebut, anak-anak Luqman menjadi anak yang saleh dan berperilaku baik. Satu masa dengan Luqman al Hakim, ada seorang ayah yang selalu sibuk mencari harta sehingga lupa untuk mendidik anaknya ilmu keagamaan. Sejak kecil, ia dididik untuk menggembalakan sapi di ladang rumput. Setiap hari ia pergi ke ladang rumput bersama sapi-sapinya dengan berbekal sebuah cambuk. Ketika sapi itu tidak menurut, maka cambuk itu akan dipukulkan pada kulit si sapi. Pada suatu hari, sang anak melakukan hal yang tidak disukai ayahnya. Maka sang ayah menasehatinya agar ia meniru perilaku anak Luqman yang sangat santun dan saleh itu. Namun tanpa diduga anak itu memukul kepala ayahnya dengan gagang cambuk. Rupanya ia tersinggung dengan nasihat ayahnya. Ia tidak suka didrinya dibandingbandingkan dengan orang lain. Maka dengan perasaan hancur, sang ayah pergi menemui Luqman untuk mengadukan kejadian yang baru menimpanya dan meminta saran. Luqman bertanya, “Sejak kecil, kamu apakan anakmu itu?” Sang ayah menjawab dengan bangga, “Anakku aku didik untuk mandiri sejak kecil. Dia kubelikan beberapa ekor sapi untuk digembalakan setiap hari. Kuberi dia cambuk agar dia bisa mengendalikan sapisapinya.” Jawaban tersebut menunjukkan bahwa sang ayah hanya menanamkan kepada anaknya pikiran untuk terus bekerja dan bekerja. Ia lupa bahwa ada hal yang lebih penting, yaitu pendidikan agama. Mendengar jawaban tersebut, Luqman tersenyum sambil berkata, “Mungkin kepalamu dilihatnya sebagai kepala sapi, hingga dipukul dengan gagang cambuk.”

*) Mahasiswa Prodi PGMI Institut Agama ISlam Negeri (IAIN) Jember

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
back to top