Ketegaran Ummu Syuhada’
Kehilangan empat orang anak sekaligus tak pernah membuatnya
sedih. Namun justru membuat wanita tua ini bahagia. Dialah Al-Khansa bin Amru.
Seorang penyari wanita yang terkenal cantik dan pandai di kalangan bangsa Arab
ketika itu. Setelah memeluk islam seluruh jiwa raganya diserahkan kepada Islam
termasuk anak-anaknya.
Da mempunyai empat orang putera. Semuanya dididik untuk
senantia menjadi martir islam yang gaagah berani. Khansa senantiasa mengembelng
anaknya sejak kecil agar jangan takut menghadapi peperangan dan ujian dalam
membela Islam. Pada tahun 14 Hijrah, Khalifah Umar Ibnul Khattab mempersiapkan
satu pasukan tempur untuk memerangi bangsa Farsi. Pasukan Islam dari berbagai
kabilah telah dikerahkan untuk menuju ke medan perang hingga mencapai 41.000
orang. Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Khansa pun mengutus keempat-empat
puteranya agar ikut mengangkat senjata dalam perang suci itu. Tak hanya itu,
Khansa sendiri juga ikut ke medan perang dalam kumpulan pasukan wanita yang bertugas
merawat danmenggelorakn semangat juang tentara Islam melalui syair-syairnya.
Sebelum jihad di medan perang, kepada keempat putranya, Khansa menitipkan
sebuah pesan. “Wahai anak-anakku! Kamu telah memilih Islam dengan rela hati.
Kemudian kamu berhijrah dengan sukarela pula. Demi Allah, yang tiada tuhan
selain Dia, sesungguhnya kamu sekalian adalah puteraputera dari seorang lelaki
dan seorang wanita. Kamu telah tahu pahala yang disediakan oleh Allah kepada
kaum muslimin dalam memerangi kaum kar itu. Ketahuilah bahwasaya kampung yang
kekal itu lebih baik daripada kampung yang binasa.” Kemudian Khansa membacakan
satu ayat dari surah Ali Imran yang bermaksud. Lalu dia berkata lagi, “Jika
kalian bangun esok pagi, insya Allah dalam keadaan selamat. Maka keluarlah
untuk berperang dengan musuh kamu. Gunakanlah semua pengalamanmu dan mohonlah
pertolongan dari Allah. Jika kalian melihat api pertempuran semakin hebat dan
kamu dikelilingi oleh api peperangan yang sedang bergejolak, masuklah ke
dalamnya. Dan rengkuhlah puncaknya ketika meletus pertempurannya. Semoga kalian
sukse mendapat balasan di kampung yang abadi, dan tempat tinggal yang kekal.”
Tak lama kemudan, perang besarbesaran pun terjadi. Tak kurang dari 41.000 orang
tentera Islam melawan tentera Farsi yang berjumlah 200.000 orang. Pasukan Islam
mendapat tentangan hebat, namun mereka tetap yakin akan pertolongan Allah. para
putera-putera Khansa juga turut maju untuk merebut peluang memasuki syurga.
Berkat dorongan dan nasihat dari sang ibunda, mereka tidak sedikit pun berasa
takut. Sambil mengibas-ngibaskan pedang, salah seorang dari mereka
bersenandung, ”Hai saudara-saudaraku! Ibu tua kita yang banyak pengalaman itu
telah memanggil kita semalam dan membekalkan nasihat. Semua mutiara yang keluar
dari mulutnya bernas dan berfaidah. Insyaallah akan kita buktikan sebentar
lagi.” Kemudian dia pun maju memukul setiap musuh yang datang. Seterusnya
disusul pula oleh anak kedua maju dan menentang setiap musuh yang menyerang.
Dengan semangat yang berapi-api ia bersyair, “Demi Allah! Kami tidak akan
melanggar nasihat dari ibu tua kami. Nasihatnya wajib ditaati dengan ikhlas dan
rela hati. Segeralah bertempur, Segeralah bertarung dan menggempur musuh-musuh
bersama-sama. Sehingga kau lihat keluarga Kaisar musnah.” Anak Khansa yang
ketiga segera melompat dengan beraninya dan bersyair, “Sungguh ibu tua kami
kuat semangatnya. Dia tetap tegas tidak akan pernah goncang. Beliau telah
memberihakn tihtah agar bertindak cakap dan berakal cemerlang. Mari! Segera
memasuki medan tempur dan segeralah untuk mempertahankan diri. Dapatkan
kemenangan yang bakal membawa kegembiraan di dalam hati. Atau tempuhlah
kematian yang bakal mewarisi kehidupan yang abadi.” Tak ketinggaln, anak
keempat seraya menghunus pedang dan melompat menyusul ketiga saudaranya. Dia
pun bersyair, “Bukanlah aku putera Khansa’. Bukanlah aku anak laki-laki. Dan
bukanlah sebab ‘Amru yang pujiannya sudah lama terkenal. Kalau aku tidak
membuat tentara asing yang berkelompok-kelompok itu terjungkal ke jurang
bahaya, dan musnah oleh senjataku.” Maka keempat-empat putera Khansa berjuang
dengan tekad bulat untuk mendapatkan syurga sambil diiringi oleh munajat
bundanya yang berada di garis belakang. Dalam pertempuran ini akhirnya umat
islam mampu memporakporandakan tentara Farsi dengan jumlah syahid sebanyak
lebih kurang 7,000 orang. Dari jumlah syuhada itu terbujur empat orang anak
Khansa’. Kaum muslimin pun menemui Khansa memberitahukan kesyahidan
putraputranya. Khansa pun menerima berita itu dengan tenang, gembira dan hati tidak
bergoncang. al-Khansa terus memuji Allah dengan ucapan, “Segala puji bagi
Allah, yang telah memuliakanku dengan mensyahidkan mereka. Dan aku
mengaharapkan dari Tuhanku, agar Dia mengumpulkan aku dengan mereka di tempat
tinggal yang kekal dengan rahmat-Nya!” Al-Khansa kembali semula ke Madinah
bersama para perajurit yang masih hidup dengan meninggalkan mayat-mayat
puteranya di medan pertempuran Kadisia. Dari peristiwa peperangan itu pula
wanita penyair ini mendapat gelaran kehormatan “Ummu syuhada” yang ertinya ibu
kepada orang-orang yang mati syahid. •
Tidak ada komentar:
Posting Komentar