Rabu, 23 Maret 2016

Hafalan Surat yang Hilang

Tidak ada komentar:
Hafalan Surat yang Hilang

Mentari masih dipeluk kabut. Hari tampak terlalu dini. Sementara Irfan sudah tenggelam dalam nikmatnya lantunan ayat-ayat suci. Terkadang bacaannya terhenti sedang otaknya berputar keras mencari serpihan-serpihan ayat hafalannya di sudut-sudut memori. Barangkali ia temukan di balik ingatannya yang semakin hari semakin tajam saja. Diliriknya Al-Quran yang berada tepat di hadapannya ketika ayat itu tak berhasil ia jumpai. “Loh, Irfan. Sudah jam setengah tujuh nak!”.
Tahu-tahu sang ibu sudah berada di belakangnya. Memegang pundak putra tercintanya yang belum genap berusia empat tahun. Dituntunnya Irfan menuju depan rumah tempat sang bapak menunggu kemudian diangkatnya ke boncengan sepeda hingga ia duduk dengan sempurna. “Jangan nakal yo le! Hafalkan surat al-Baqarahnya dengan baik. Jangan cuma main aja kerjaannya.” tutur sang ibu sembari menyodorkan tangannya untuk diciumi Irfan. Roda pun mulai berputar. Sebentar saja sepeda yang membawa bapak dan anak itu telah hilang di telan tikungan. Tepat di depan sebuah yayasan bertuliskan “Darul Qur’an”, sepeda terhenti seketika. Irfan berusaha turun sekenanya. Beruntung ia tidak terjatuh atau celaka.Setelah disalaminya tangan sanag bapak, ia berlari kecil menuju gerbang kemudian masuk ke dalam sebuah ruangan yang sudah disesaki teman-temannya yang sedang menghafal al-Qur’an. Segera di bukanya kitab suci miliknya tanpa aba-aba. Tak lama setelah itu, Pak Ustadz datang seraya mengucapkan salam.Siswa siswi yang ada di kelas itupun menjawab dengan kompak. “Siapa yang mau setor hafalan dulu?” tanya ustadz dengan semangat. Irfan mengacungkan tangan dengan sigap. “Ya bagus Irfan. Ayo sini,” pinta Sang Ustadz memangil. Bima, teman sebangku Irfan terlihat gusar. Rasa iri menguasai hatinya. Lembar demi lembar al-Qur’an dibukanya dengan kasar hingga terlihat kusut. Mulutnya komat-kamit melafalkan hafalannya. Tapi ia terlihat bingung. Hafalannya mendadak kabur.Tak ada sepotong ayatpun diingatnya. Sementara hatinya semakin panas saja melihat Irfan berhasil menghafal dengan lancar tanpa hambatan. Wajahnya tampak merah menyala tak ubahnya bara. Ia berusaha keras sekuat tenaga mencari ayat-ayatnya.Sayang, hilangnya hafalan itu semakin menggila. Ia malah bertambah
upa. Bahkan meski ia pejamkan matanya rapat-rapatdan mengernyitkan dahinya berlapis-lapis. Irfan berjalan sambil tersenyum. Rasa lega memenuhi jiwanya. Melihat itu semua hati Bima semakin bergemuruh. Emosinya kian meletup-letup. Begitu hingga semua temannya selesai menyetor hafalan masingmasing. Kini giliran Bima yang dipanggil Pak Ustadz. Tubuhnya gemetar hebat. Sekitar sepuluh menit berlalu. Bima belum juga menyelesaikan satu ayat saja. “Bagaimana Bima? Tadi malam tidak menghafal ya?” tanya Pak Ustadz. “Menghafal kok Ustadz. Bahkan tidak tidur sampai jam sebelas malam.” “Oh ya? Kok sekarang bisa gak hafal?” “Mmmm anu Pak Ustadz, anu...” “Ya sudah kamu tahukan hukuman jika tidak menghafalkan?” “Ya pak ustadz.” Segera Bima berdiri di depan kelas dengan satu kaki. Kedua tangannya memegang telinganya dengan sisi berlawanan. Tangan kanan untuk telinga kiri dan sebaliknya. Bima benar-benar malu dibuatnya. Ia benar-benar kecewa pada dirinya sendiri. Dirasanya getol sekali tadi malam ia menghafal itu surat. Kenapa tiba-tiba hilang tak berbekas seperti ini. Kepalanya menunduk menyangga gengsinya. Pak Ustadz hanya menggelenggeleng kepala melihat Bima. Embun belum juga mengering ketika Irfan mengecup tangan bapaknya pagi ini. Seulas senyum sempat ia hadiahkan pada sang bapak yang tak pernah lelah mengantarnya menuju sekolah setiap pagi. Demi menjadikan sang anak sebagai Ha­dz Al-Qur’an. Sungguh cita-cita yang amat mulia. Sepagi ini, pemandangan yang jarang terjadi Irfan temui. Bima tampak serius sekali melototi kitab suci. Irfan merasa heran bukan kepalang.segera saja. Ia duduk di sampingnya sambil perlahan membaca ayatayat-Nya. Alhamdulillah, satu lembar dapat

ia selesaikan dengan lancar. Ia merasa sangat siap andaikata Sang Ustadz menawarinya setor di giliran perdana.Dan benar saja,ketika Sang Ustadz datang,beliau meminta Irfan yang setor terlebih dahulu. Dengan senang hati Irfan maju ke depan kelas dan membaca dengan suara lantang dan tenang. Entah apa yang ada di ­kiran Bima. Ia seperti merasa dengki mendengar suara Irfan yang merdu. Kejadian serupapun kembali menimpa Bima. Ayat-ayat hafalannya hilang lagi. Ia bingung bukan main. Matanya semakin memerah memendam amarah. Tampaklah seluruh luapan bencinya pada Irfan. “Bima... Sini biar aku yang bantu mengoreksi hafalanmu,” pinta Irfan. “Ah... gak usah sok baik kamu Ir! Kamu sombong ya karena selalu setor duluan?” tuduhnya. “Gak kok Bim. Aku cuma pengen bantu,” jawabnya dengan lemah. “Ada apa itu kok rebut-ribut?” tanya Pak Guru seketika. Saking kerasnya suara Bima hingga membuat Ustadz mendengar apa yang Bima katakana tadi. “Ayo Bima maju! Hafalkan ayat-ayatnya dengan baik. Jangan seperti kemarin!” Bima berjalan dengan loyo. Memang hafalannya telah hilang semenjak irfan setor tadi. Ia tak tahu harus bagaimana lagi. Langsung saja Bima mengatakan hal yang sejujur-jujurnya. Pak ustadz kembali menghukum Bima dan menyuruhnya menghadap sepulang sekolah nanti.Ia menuruti kata Ustadznya dan menceritakan hal ganjil yang menimpanya dua hari terakhir ini. Barulah ia tahu bahwa itu ulahnya sendiri yang merasa dengki pada Irfan. Itulah hal yang menyebabkan hafalannya hilang. Karena sejatinya AlQur’an itu ayat suci dan harus di baca dengan hati yang suci pula. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
back to top