Hafalan
Surat yang Hilang
Mentari
masih dipeluk kabut. Hari tampak terlalu dini. Sementara Irfan sudah tenggelam
dalam nikmatnya lantunan ayat-ayat suci. Terkadang bacaannya terhenti sedang
otaknya berputar keras mencari serpihan-serpihan ayat hafalannya di sudut-sudut
memori. Barangkali ia temukan di balik ingatannya yang semakin hari semakin
tajam saja. Diliriknya Al-Quran yang berada tepat di hadapannya ketika ayat itu
tak berhasil ia jumpai. “Loh, Irfan. Sudah jam setengah tujuh nak!”.
Tahu-tahu
sang ibu sudah berada di belakangnya. Memegang pundak putra tercintanya yang
belum genap berusia empat tahun. Dituntunnya Irfan menuju depan rumah tempat
sang bapak menunggu kemudian diangkatnya ke boncengan sepeda hingga ia duduk
dengan sempurna. “Jangan nakal yo le! Hafalkan surat al-Baqarahnya dengan baik.
Jangan cuma main aja kerjaannya.” tutur sang ibu sembari menyodorkan tangannya
untuk diciumi Irfan. Roda pun mulai berputar. Sebentar saja sepeda yang membawa
bapak dan anak itu telah hilang di telan tikungan. Tepat di depan sebuah
yayasan bertuliskan “Darul Qur’an”, sepeda terhenti seketika. Irfan berusaha
turun sekenanya. Beruntung ia tidak terjatuh atau celaka.Setelah disalaminya
tangan sanag bapak, ia berlari kecil menuju gerbang kemudian masuk ke dalam
sebuah ruangan yang sudah disesaki teman-temannya yang sedang menghafal
al-Qur’an. Segera di bukanya kitab suci miliknya tanpa aba-aba. Tak lama
setelah itu, Pak Ustadz datang seraya mengucapkan salam.Siswa siswi yang ada di
kelas itupun menjawab dengan kompak. “Siapa yang mau setor hafalan dulu?” tanya
ustadz dengan semangat. Irfan mengacungkan tangan dengan sigap. “Ya bagus
Irfan. Ayo sini,” pinta Sang Ustadz memangil. Bima, teman sebangku Irfan
terlihat gusar. Rasa iri menguasai hatinya. Lembar demi lembar al-Qur’an
dibukanya dengan kasar hingga terlihat kusut. Mulutnya komat-kamit melafalkan
hafalannya. Tapi ia terlihat bingung. Hafalannya mendadak kabur.Tak ada
sepotong ayatpun diingatnya. Sementara hatinya semakin panas saja melihat Irfan
berhasil menghafal dengan lancar tanpa hambatan. Wajahnya tampak merah menyala
tak ubahnya bara. Ia berusaha keras sekuat tenaga mencari ayat-ayatnya.Sayang,
hilangnya hafalan itu semakin menggila. Ia malah bertambah
upa. Bahkan
meski ia pejamkan matanya rapat-rapatdan mengernyitkan dahinya berlapis-lapis.
Irfan berjalan sambil tersenyum. Rasa lega memenuhi jiwanya. Melihat itu semua
hati Bima semakin bergemuruh. Emosinya kian meletup-letup. Begitu hingga semua
temannya selesai menyetor hafalan masingmasing. Kini giliran Bima yang
dipanggil Pak Ustadz. Tubuhnya gemetar hebat. Sekitar sepuluh menit berlalu.
Bima belum juga menyelesaikan satu ayat saja. “Bagaimana Bima? Tadi malam tidak
menghafal ya?” tanya Pak Ustadz. “Menghafal kok Ustadz. Bahkan tidak tidur
sampai jam sebelas malam.” “Oh ya? Kok sekarang bisa gak hafal?” “Mmmm anu Pak
Ustadz, anu...” “Ya sudah kamu tahukan hukuman jika tidak menghafalkan?” “Ya
pak ustadz.” Segera Bima berdiri di depan kelas dengan satu kaki. Kedua tangannya
memegang telinganya dengan sisi berlawanan. Tangan kanan untuk telinga kiri dan
sebaliknya. Bima benar-benar malu dibuatnya. Ia benar-benar kecewa pada dirinya
sendiri. Dirasanya getol sekali tadi malam ia menghafal itu surat. Kenapa
tiba-tiba hilang tak berbekas seperti ini. Kepalanya menunduk menyangga
gengsinya. Pak Ustadz hanya menggelenggeleng kepala melihat Bima. Embun belum
juga mengering ketika Irfan mengecup tangan bapaknya pagi ini. Seulas senyum
sempat ia hadiahkan pada sang bapak yang tak pernah lelah mengantarnya menuju
sekolah setiap pagi. Demi menjadikan sang anak sebagai Hadz Al-Qur’an. Sungguh
cita-cita yang amat mulia. Sepagi ini, pemandangan yang jarang terjadi Irfan
temui. Bima tampak serius sekali melototi kitab suci. Irfan merasa heran bukan
kepalang.segera saja. Ia duduk di sampingnya sambil perlahan membaca
ayatayat-Nya. Alhamdulillah, satu lembar dapat
ia
selesaikan dengan lancar. Ia merasa sangat siap andaikata Sang Ustadz
menawarinya setor di giliran perdana.Dan benar saja,ketika Sang Ustadz
datang,beliau meminta Irfan yang setor terlebih dahulu. Dengan senang hati
Irfan maju ke depan kelas dan membaca dengan suara lantang dan tenang. Entah
apa yang ada di kiran Bima. Ia seperti merasa dengki mendengar suara Irfan
yang merdu. Kejadian serupapun kembali menimpa Bima. Ayat-ayat hafalannya
hilang lagi. Ia bingung bukan main. Matanya semakin memerah memendam amarah.
Tampaklah seluruh luapan bencinya pada Irfan. “Bima... Sini biar aku yang bantu
mengoreksi hafalanmu,” pinta Irfan. “Ah... gak usah sok baik kamu Ir! Kamu
sombong ya karena selalu setor duluan?” tuduhnya. “Gak kok Bim. Aku cuma pengen
bantu,” jawabnya dengan lemah. “Ada apa itu kok rebut-ribut?” tanya Pak Guru
seketika. Saking kerasnya suara Bima hingga membuat Ustadz mendengar apa yang
Bima katakana tadi. “Ayo Bima maju! Hafalkan ayat-ayatnya dengan baik. Jangan
seperti kemarin!” Bima berjalan dengan loyo. Memang hafalannya telah hilang
semenjak irfan setor tadi. Ia tak tahu harus bagaimana lagi. Langsung saja Bima
mengatakan hal yang sejujur-jujurnya. Pak ustadz kembali menghukum Bima dan
menyuruhnya menghadap sepulang sekolah nanti.Ia menuruti kata Ustadznya dan
menceritakan hal ganjil yang menimpanya dua hari terakhir ini. Barulah ia tahu
bahwa itu ulahnya sendiri yang merasa dengki pada Irfan. Itulah hal yang
menyebabkan hafalannya hilang. Karena sejatinya AlQur’an itu ayat suci dan
harus di baca dengan hati yang suci pula.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar