Di balik dari
kecemerlangan seorang anak, tentu tak bisa dilepaskan dari sosok seorang ibu.
Kecerdasan seorang Abu Hurairah pun tak lepas dari sosok ibundanya, Umaimah
binti Shubaih bin al-Harits. Sebab sejak kecil memang pemilik nama lengkap
Abdurrahman bin Shakhr al-Azdi ini merupakan seorang yatim. Dan di bawah asuhan
Umaimah, dia tumbuh menjadi pemuda dengan kecemerlangan otak luar biasa.
Tak kurang dari 5.374 hadis yang diriwayatkannya. Tercatat
lebih dari 800 orang perawi dari kalangan sahabat dan tabi’in telah
meriwayatkan hadis darinya. Beberapa di antara mereka adalah Ibnu Abbas, Ibnu
Umar dan Anas bin Malik. Umaimah sangat mencintai Abu Hurairah, begitu juga
sebaliknya. Namun, cintanya pada sang anak tak menggerakkan hatinya untuk
memeluk Islam. Sesering apapun Abu Hurairah mengajaknya pada keagungan Islam,
ibunya selalu menolak. Meski demikian, dia tetap memperlaukan ibunya dengan
penuh kasih sayang. Suatu hari, kegundahan hati Abu Hurairah memuncak.
Pasalnya, dia tidak mampu meluluhkan hati sang ibu untuk berbait kepda
Rasulullah. Bahkan yang membuatnya gunda gulana, sang ibunda justru mengucapkan
kalimat tak pantas perihal Rasulullah. Saking tak kuasanya menahan pilu,
sembari berlinang air mata dia menemui Nabi Muhammad. Dia pun mengadukan kejadian
yang baru saja dialaminya. Dengan dilandasi rasa sayang kepada sang ibunda dan
tak ingin murka Allah menimpa sosok yang membesarkanya, dia pun memohon doa
kepada Rasulullah. “Ya Rasul! Mohonkan kepada Allah agar memberikan hidayah
kepada ibuku,” pintanya kepada Nabi Muhammad. Laksana seorang bapak yang sangat
mengasihi anaknya, Rasulullah pun mengabulkan permintaannya. Mendengar itu,
sesak dada yang memnuhi rongga jiwanya pun mulai sirna. Abu Hurairah merasa
lebih tenang. Dia kembali ke rumahnya dengan penuh suka cita. Dia seakan tak
sabar ingin melihat perubahan pada diri sang ibunda. Sampai di depan pintu
rumahnya, Abu Hurairah tertegun. Sebab, dia mendapati pintu rumah terkunci
rapat. Mendengar langkah kaki Abu Hurairah yang terhenti di depan pintu, ibunya
berkata dari dalam. “Anakku! tetaplah engkau di luar,” kata Umaimah. Mendengar
ucapan sang ibu, dai pun menurutonya. Namun, dari luar Abu Hurairah mendengar
gemericik air. Tak lama kemudian, sang ibu pun membuka pintu. Syahdan, Sang
ibunda keluar dengan memakai baju dan kerudung. “Wahai anakku! Asyhadu
Allaa Ilaaha Illallah wa Asyhadu anna Muhammadan Rasuulullah,” ucapnya tanpa
disangka-sangka. Mendengar kata-kata yang meluncur dari bibir sang ibunda,
sontak saja Abu Hurairah mengucapkan takbir. Air matanya tak terbendung. Dalam
hari dia bersyukur doa Rasulullah begitu cepat terkabul. Lalu, dia pun berlari
menemui Rasulullah SAW sembari menangis. Namun, kali ini bukan air mata
kesediahan tapi air mata bahagia. Dengan wajah ceria, dia menceritakan perihal
keislaman ibunya. Dia pun meminta Rasulullah mendoakan ibunya kembali agar
disayangi oleh setiap orang beriman. Doa itu pun terkabul. Ummu Abu Hurairah RA
begitu disayangi oleh orang-orang di sekitarnya. Bahkan dia dikenal sebagai
wanita yang dermawan dan murah hati. • dari berbagai sumber