Selasa, 09 Agustus 2016

Do'a Rasul untuk Ibunda Abu Hurairah

Tidak ada komentar:
Di balik dari kecemerlangan seorang anak, tentu tak bisa dilepaskan dari sosok seorang ibu. Kecerdasan seorang Abu Hurairah pun tak lepas dari sosok ibundanya, Umaimah binti Shubaih bin al-Harits. Sebab sejak kecil memang pemilik nama lengkap Abdurrahman bin Shakhr al-Azdi ini merupakan seorang yatim. Dan di bawah asuhan Umaimah, dia tumbuh menjadi pemuda dengan kecemerlangan otak luar biasa.

Tak kurang dari 5.374 hadis yang diriwayatkannya. Tercatat lebih dari 800 orang perawi dari kalangan sahabat dan tabi’in telah meriwayatkan hadis darinya. Beberapa di antara mereka adalah Ibnu Abbas, Ibnu Umar dan Anas bin Malik. Umaimah sangat mencintai Abu Hurairah, begitu juga sebaliknya. Namun, cintanya pada sang anak tak menggerakkan hatinya untuk memeluk Islam. Sesering apapun Abu Hurairah mengajaknya pada keagungan Islam, ibunya selalu menolak. Meski demikian, dia tetap memperlaukan ibunya dengan penuh kasih sayang. Suatu hari, kegundahan hati Abu Hurairah memuncak. Pasalnya, dia tidak mampu meluluhkan hati sang ibu untuk berbait kepda Rasulullah. Bahkan yang membuatnya gunda gulana, sang ibunda justru mengucapkan kalimat tak pantas perihal Rasulullah. Saking tak kuasanya menahan pilu, sembari berlinang air mata dia menemui Nabi Muhammad. Dia pun mengadukan kejadian yang baru saja dialaminya. Dengan dilandasi rasa sayang kepada sang ibunda dan tak ingin murka Allah menimpa sosok yang membesarkanya, dia pun memohon doa kepada Rasulullah. “Ya Rasul! Mohonkan kepada Allah agar memberikan hidayah kepada ibuku,” pintanya kepada Nabi Muhammad. Laksana seorang bapak yang sangat mengasihi anaknya, Rasulullah pun mengabulkan permintaannya. Mendengar itu, sesak dada yang memnuhi rongga jiwanya pun mulai sirna. Abu Hurairah merasa lebih tenang. Dia kembali ke rumahnya dengan penuh suka cita. Dia seakan tak sabar ingin melihat perubahan pada diri sang ibunda. Sampai di depan pintu rumahnya, Abu Hurairah tertegun. Sebab, dia mendapati pintu rumah terkunci rapat. Mendengar langkah kaki Abu Hurairah yang terhenti di depan pintu, ibunya berkata dari dalam. “Anakku! tetaplah engkau di luar,” kata Umaimah. Mendengar ucapan sang ibu, dai pun menurutonya. Namun, dari luar Abu Hurairah mendengar gemericik air. Tak lama kemudian, sang ibu pun membuka pintu. Syahdan, Sang ibunda keluar dengan memakai baju dan kerudung. “Wahai anakku!  Asyhadu Allaa Ilaaha Illallah wa Asyhadu anna Muhammadan Rasuulullah,” ucapnya tanpa disangka-sangka. Mendengar kata-kata yang meluncur dari bibir sang ibunda, sontak saja Abu Hurairah mengucapkan takbir. Air matanya tak terbendung. Dalam hari dia bersyukur doa Rasulullah begitu cepat terkabul. Lalu, dia pun berlari menemui Rasulullah SAW sembari menangis. Namun, kali ini bukan air mata kesediahan tapi air mata bahagia. Dengan wajah ceria, dia menceritakan perihal keislaman ibunya. Dia pun meminta Rasulullah mendoakan ibunya kembali agar disayangi oleh setiap orang beriman. Doa itu pun terkabul. Ummu Abu Hurairah RA begitu disayangi oleh orang-orang di sekitarnya. Bahkan dia dikenal sebagai wanita yang dermawan dan murah hati. • dari berbagai sumber
 
back to top